Dibalik Riasan Make Up dan Busana Perempuan

Dibalik riasan make up dan busana perempuan, Bagio Ginanjar alias “Ajeng” juga ingin dihargai dan diterima di masyarakat. Profesi pengamen yang digelutinya cukup untuk makan dan berbagi sesama teman seperjuangannya.


SK-Bagio ginanjar yang sering disapa dengan nama panggilan “ajeng” (23) adalah seorang pengamen jalanan yang sekaligus sebagai seorang waria. Mungkin terkadang masyarakat sekitar juga merasa risih atau terganngu engan kehadiran mereka ,tetapi itu sudah menjadi mata pencaharian kami mbak tegas ajeng.
“yo….kami juga ingin sekali dihargai dan diterima di masyarakat mabak,kata teman Ajeng yang akrab disapa Kesya (rudi).
Bagio Ginanjar (Ajeng) tinggal di dekat daerah pasar ngasem bersama dengan teman seprofesinya juga. Ajeng adalah seorang waria yang berasal dari Jawa Timur, Jombangyang merantau ke Yogyakarta mengadu nasib sekaligus menambah pengalaman kerja. Memang secara kasat mata, banyak orang menganggap rendah profesi waria. Ajeng menyadari jiwa kefemininannya sejak ia duduk dibangku sekolah dasar. Pada waktu kecil Ajeng suka bermain dengan anak wanita yang seumuran dengan dia. Mereka bermain tali, bermain boneka, yang tidak lazim dilakukan oleh anak laki-laki. Sikap keperempuanan Ajeng dilatarbelakangi oleh orang tua yang kurang peduli dengan kehidupannya sejak ia kecil, mungkin juga ekonomi keluarga, juga pengaruh ikut-ikutan dari teman sesamanya juga (teman waria). Maklumlah mbak, wong saya saja Cuma lulus kelas 2 smp kok,sahut Ajeng.
Pertama Ajeng hanya ikut-ikutan dengan teman-temannya, dan akhirnya keterusan mengamen ke jogja tepatnya di malioboro, karena di malioboro banyak wisatawan yang menyawer mereka dengan uang yang cukup lumayan bayarannya, daripada mengamen di jalanan biasa yang hanya mendapat recehan itupun kalau orang mau memberi recehannya. Ajeng mengamen sejak umur 18 tahun, dan sekarang tjinggal luntang lantungbebas dimana saja. Ajeng berpengahasilan Rp.50.000,- perharinya dan itu juga kalau ramai dan hasil mengamen dibagi rata dengan kedua temannya yang juga ikut mengamen. Terkadang kalau sepi Ajeng dan temannya hanya mendapat Rp.10.000,- saja. Uang mengamen dipergunakan untuk mengamen dipergunakan untuk makan dan kalau ada sisa lebih uangnya untuk beli make up dan keperluan lainnya. Ajeng juga pernah tertangkap operasi pamong praja pada saat malam hari dia mengamen,sekalian juga sebagai pekerja seks. Itu harus saya lakukan,kalau tidak mungkin saya akan tidak dapat makan mbak jelas Ajeng. Ajeng merasa menikmati dan senang dengan kehidupannya sekarang, karena waria juga manusia mbak tegas Ajeng.

Steffi Stephani/153070346

0 komentar:

Posting Komentar

link yang lain